Tangan di atas lebih baik dari pada di bawah

baitijannati –Sedekah merupakan pemberian dari seorang muslim secara sukarela dan ikhlas tanpa dibatasi waktu dan jumlah. Dari segi bentuknya, sedekah sesungguhnya tidak dibatasi pemberian dalam bentuk uang, tetapi sejumlah amal kebaikan yang dilakukan seorang muslim. Bersedekah selain merupakan sarana beribadah juga bisa digunakan untuk melatih empati anak pada orang lain. Empati berarti menempatkan diri seolah-olah menjadi seperti orang lain. Rasa empati pada anak harus diasah. Bila dibiarkan rasa empati tersebut sedikit demi sedikit akan terkikis walau tidak sepenuhnya hilang, tergantung dari lingkungan yang membentuknya. Banyak segi positif bila kita mengajarkan anak berempati. Mereka tidak akan agresif dan senang membantu orang lain.
Rasulullah pun sangat menekankan pentingnya mengembangkan sikap empati ini. Gambaran orang-orang beriman dalam hal saling mencintai, saling mengasihi, dan saling berempati di antara sesama mereka adalah laksana satu tubuh, jika ada sebagian dari anggota tubuh yang sakit, maka seluruh anggota tubuh akan ikut merasakan sakit.
Anak bisa diajari konsep empati sejak usia 2 tahun, saat mereka sudah mampu berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain. Biasanya dari hal-hal yang sederhana. Contoh ketika anak sedang makan dan di sampingnya ada orang, maka ajarkanlah anak untuk menawarkan makanannya. Dengan begitu anak biasa berbagi dan peduli pada orang lain.
Agar Anak Gemar Bersedekah
  1. Berikan motivasi melalui ayat dan hadits yang berbicara tentang sedekah
Banyak sekali ayat-ayat Al-qur’an dan hadits Rasulullah yang menggambarkan tentang pahala orang yang menafkahkan sebagian hartanya. Ayat-ayat dan hadits-hadits tersebut hendaknya sudah mulai dikenalkan kepada anak sejak dini. Dengan membacakanya, menghafal, dan mengkajinya akan memberikan motivasi yang luar biasa buat anak. Cara mengkajinya tentu dengan bahasa yang mudah dipahami anak-anak. Ayat dan hadits yang bisa disampaikan antara lain:
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir, seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang dikehendakiNya. Dan Allah Maha Luas (KurniaNya) lagi Maha Mengetahui” (QS. 2:261)
“Setiap pagi ada dua Malaikat yang turun di langit dunia untuk memanjatkan doa kepada Allah; yang satu berdoa: “Ya Allah berikanlah ganti kepada orang yang mau membelanjakan hartanya; yang lain memanjatkan doa: Ya Allah berilah kerusakan pada harta orang yang tidak mau membelanjakannya’ (HR. Bukhari Muslim)
2. Bacakan cerita-cerita sahabat Rasulullah SAW yang gemar menafkahkan hartanya
Selain untuk menyampaikan pesan, membacakan buku cerita juga akan lebih mempererat hubungan ibu dengan anak, menambah perbendaharaan bahasa anak yang akan membantu perkembangan kemampuan sosialisasinya. Sekaligus untuk memberikan pembelajaran bagi anak agar kelak gemar membaca. Cerita tentang bagaimana Abu Bakar Ashidiq yang menyerahkan sebagian besar hartanya untuk dakwah, atauAburrahman Bin Auf sahabat yang sangat kaya raya. Kekayaannya yang banyak dan melimpah ruah yang disumbangkan untuk kepentingan kaum muslimin. Beliaulah yang membaktikan harta kekayaannya dengan kedermawanan dan pemberian yang tak terkira, dengan puas dan rela. Dan semenjak keislamannya sampai meninggal dalam usia tujuh puluh lima tahun, Abdurrahman Bin Auf menjadi teladan yang cemerlang sebagai seorang mukmin yang besar. Hal ini menyebabkan Nabi SAW memasukkannya dalam sepuluh orang yang telah diberi kabar gembira sebagai ahli surga. Subhanallah.
3. Keteladanan
Keteladanan merupakan salah satu cara yang efektif dalam melakukan pendidikan kepada anak. Jika orang tua berbuat baik, maka anak biasanya juga akan berbuat baik. Dalam melakukan peniruan, umumnya anak akan meniru apa yang dilakukan orang tua, bukan apa yang dikatakannya. Semakin bertambah usia anak, tidak hanya tingkah laku yang tampak saja yang akan ditirunya, tetapi juga sikap seseorang terhadap sesuatu. Oleh karena itu, orang tua harus bisa menjadi model yang baik. Bila dalam keseharian orang tua biasa memperlihatkan kepekaan serta kepedulian yang tinggi terhadap lingkungan, mampu berempati, bukan tidak mungkin anak akan menirunya. Sejalan dengan perkembangannya, akan meningkatkan kemampuan anak untuk memahami berbagai macam hal, dan diharapkan peniruan ini akan menjadi sebuah kemampuan, kebiasaan yang melekat pada anak. Tunjukkan kepedulian orang tua terhadap orang-orang yang tak mampu. Komitmen yang kuat dalam membantu penderitaan orang lain Insya Allah akan dapat menular kepada anak-anak.
4. Pembiasaan
Mendidik anak di waktu kecil ibarat mengukir di atas batu. Demikian salah satu bunyi hadits Rasulullah yang diriwayatkan oleh Abu Daud. Selain keteladanan dari orang tua, pembiasaan juga merupakan cara pembelajaran yang sangat tepat buat anak. Upaya kecil yang bisa dilakukan misalnya dengan membawakan bekal sekolah anak lebih dari satu, dengan pesan untuk dibagikan pada temannya yang tidak membawa membawa bekal ke sekolah.
5. Ajaklah anak melihat sendiri dan mengalami kehidupan yang sangat berbeda dengan kehidupan yang biasa ia jalani.
Ajaklah anak untuk mengunjungi tempat di mana banyak orang susah yang berkumpul di sana. Dengan itu mereka akan melihat ada sisi lain dari kehidupan manusia. Kita pun dapat memberi pemahaman kepada mereka dengan menjelaskan mengapa ada gelandangan yang mengais-ngais sampah, atau makan makanan yang telah dibuang ke tempat sampah, dan sebagainya. Sekali waktu anak bisa diajak ke panti asuhan, tempat bencana alam atau tempat-tempat lain yang membutuhkan uluran tangan. Selain mengajak anak langsung ke tempat-tempat seperti itu, anak juga bisa diajak melihat film-film tentang kaum muslimin yang didzolimi seperti film-film perjuangan rakyat palestina, atau penderitaan kaum muslimin di negara lainnya.(www.baitijannati.wordpress.com)

Membangun karakter anak dengan islam

“Ayo, kalau kamu kencing di celana lagi, ibu panggilin dokter lho. Biar nanti disuntik..”.Kata – kata itulah yang sering terdengar di telinga kita ketika hendak membuat anak jera dan takut. Tanpa disadari, perilaku orang tua tersebut justru membuat anka menjadi trauma.
Trauma pada anak banyak disebabkan karena perilaku orang tua dalam mendidik anak. Sehingga, orang tua perlu menjalin hubungan yang positif dengan anak, dimana pendekatan kepada anak harus dilakukan secara baik.
Al-Qur’anul KArim mengajarkan kepada kedua orang tua cara berbicara dengan anak – anaknya melalui contoh yang terkandung dalam surah Al luqman ayat 13 “ Dan ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya. ‘wahai anakku janganlah kamu menyekutukan Allah, sesungguhnya menyekutukan Allah adalah benar – benar kelaliman yang besar”.
Teks Al Quran ini mengarahkan secara halus kepada kedua orang tua cara berbicara kepada anak – anaknya dan pentingnya kata yang lembut disertai rasa cinta kasih ketika kedua orang tua berbicara dengan anak – anaknya juga menyarankan argumentasi yang logis.
Menyuruh atau melakukan suatu tingkah laku perlu diberikan dengan ramah. Larangan dan hal –hal yang tidak boleh, disampaikan dengan alas an yang rasional dan logis serta dapat diterima dan dimengerti anak.
Menasehati anak merupakan cara yang efektif untuk mengubah tingkah laku anak. Namun, sejauh manakah upaya menasehati ini dapat mengubah tingkah laku anak? Efektifitas nasehat tergantung dari rasa tanggung jawab orang tua terhadap anaknya.
Rasulullaah SAW telah menekankan bahwa contoh tanggung jawab orang tua mengasuh anaknya adalah membimbing anak melalui nasehat, apabila tanpa nasehat kepada anaknya maka orang tua ditolak masuk surga. Sebagaimana sabda beliau “Barangsiapa diserahi tanggung jawab dalam pemeliharaan (keluarga, kerabat atau kaum muslimin keseluruhan) tetapi lalai membimbingnya dengan nasehat, maka ia akan dihalangi untuk masuk surga “(HR.Baihaqi).
Efektifitas nasehat tergantung pula kepada kejujuran orang tua dan tauladan yang baik dari orang tuanya. Setiap nasehat orang tua semestinya dipenuhi oleh oang tuanya dan ditepati nasehatnya. Janganlah orang tua menasehati atau menyuruh tapi kemudian tidak dilakukan atau dipenuhi.
Dari Abu Hurairoh ra, dari Rasulullah SAW, sesungguhnya beliau bersabda:
“Barangsiapa berkata kepada seorang anak kecil: ‘kemarilah dan ambillah’, tetapi kemudian ternyata tak diberikannya apa – apa, maka dia telah melakukan satu kedustaan”.(HR. Ahmad).
Ketikapun akan memberikan hukuman, maka hal itu untuk melampiaskan kemarahan. Sebagaimana acapkali dilakukan kebanyakan dari kita. Namun, bertujuan untuk mendidik dan mengajari anak atau meredam perilaku buruk anak. Ali bi Abi Thalib menyatakan, “Sesungguhnya orang berakal itu dengan adab dan binatang itu tiada yang dipikir kecuali memukul”.
Orang tua hendaknya menghondari sikap keras yang belebihan dalam memberi hukuman. Seandainya seorang anak melakukan kesalahan dalam satu hari lebih dari satu kali, hal itu wajar bagi anak kecil.
Oleh karena itu, orang tua harus memberi hukuman satu kesalahan saja dari sekian kesalahan. Kesalahan – kesalahan lain hendaknya ditinggalkan, sehingga ada kesempatan tepat untuk mengingatkannya atau membei pelajaran terhadapnya. Dengan cara itu, diharapkan kesalahan dan kekurangan yang terdapat pada anak semakin berkurang dan penyembuhannya tentunya pelu waktu yang cukup lama.
Orang tua dapat saja menghukum dengan peringatan fisik, seperti memukul jika anaknya berbuat dosa besar atau meninggalkan kewajiban agama (sholat, puasa, dan lain – lain).
Rasulullah SAW bersabda, “Ajarilah anak – anakmu sholat ketika berusia 7 tahun, dan bila mencapai usia 10 tahun, mereka melalaikan sholat, pukullah mereka dan pisahkan tempat tidur mereka satu dengan yang lain”.(HR Ahmad, Abu Daud).
Agar anak – anak tidak menjadi penakut, orang tua perlu menggambarkan beberapa kisah para sahabat nabi. Banyak kisah – kisah tentang keberanian para sahabat nabi yang bias diceritakan pada anak. Seperti kisah Ali bin Abi Thalib ra. Pada malam ketika Nabi hendak memulai hijrah ke Madinah. Beliau rela menuruti perintah Nabi untuk menempati tempat tidurnya dan memakai selimut hijau beliau. Perintah ini diterima tanpa ada rasa takut dan keragu – raguan sedikitpun. Padahal ketika itu persis bahwa orang – orang Quraisy sedang mengintai dan berjaga – jaga untuk membunuh dan mebinasakan nabi.
Juga kisah Abdullah bin Abu Bakar. Beliau diberi tugas dan peran mencari berita tentang rencana orang – orang Quraisy yang ingin mencelakakan Nabi. Padahal ketika itu beliau belu baligh.
Ataupun Umair bin Abi Waqash yang menginginkan ikut perang Badar. Tatkala Rasulullah menolaknya karena masih kecil, Umair pun menangis. Melihat kenyataan itu Rasulullah SAW kemudian memberi izin. Akhirnya Umair terbunuh dalam peperangan tersebut.
Takut hanya dibolehkan kepada Allah saja. Kedua orang tua harus menekankan kepada anak – anaknya untuk takut kepada kehidupan akherat dan neraka Jahanam. Dari kehidupan Rasulullah kita bias mengetahui bagaimana cara beliau memberi nasehat kepada seorang pemuda tentang adanya hari akhir dan rasa takut kepada neraka. Rasulullah mengajak pemuda tesebut ke dalam masjid. Kemudian selesai sholat Rasul menasehatinya dengan membacakan surat At Takatsur. Subhanallah kita patut menirunya.

Selalu Ada Kemudahan

Setiap manusia pasti mempunyai masalah. Sering kali kita dihadapkan dengan ujian hidup. Ada yang begitu berat untuk dihadapi, ada yang begitu ringan untuk diselesaikan. Tapi satu hal yang perlu kita sadari, semua orang pasti mendapatkan ujian. semua orang menghadapi masalahnya masing-masing. Yang membedakan antara satu dengan yang lain adalah seberapa cerdas menyikapinya, seberapa siap menghadapinya, dan seberapa cantik menyelesaikannya.
mari merenungi isyarat dari ALLAH;
“Apakah kamu mengira kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu sebagaimana orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan sehingga berkatanya rasul dan orang-orang beriman bersamanya:”Bilakah datangnya pertolongan ALLAH?”. Ingatlah, sesungguhnya pertolongan ALLAH itu amat dekat.” (QS. 2:214)
Saudaraku, mari kuatkan keyakinan kita terhadap pertolongan ALLAH. Dan dengan ijinNya, pancaran cahaya akan membantu kita menjalani semua ujian dengan berkah, hingga semua masalah dapat berakhir dengan indah.
mari kembali merenungi ayat cinta dariNya,
“kami tiada membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya, dan pada sisi kami ada suatu kitab yang membicarakan kebenaran, dan mereka tidak dianiaya.” ( QS. 23:62 )
“karena sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan.” ( QS 94: 5-6 )
“…Barang siapa bertaqwa kepada ALLAH niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakal kepada ALLAH niscaya ALLAH akan mencukupkannya…” ( QS 65: 2-3 )
Tidakkah kita melihat pertolongan yang dijanjikan ALLAH pada seluruh umatNya?
sedikit renungan, semoga bermanfaat..
Renungan Islam.

Menolong diri sendiri dengan “menolong” ALLAH

Teringat sebuah ayat motivasi luar biasa,
“Wahai orang-orang yang beriman! jika kamu menolong (agama) ALLAH, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS Muhammad: 7)
Adakah yang merasa berat menjalankan amanah?
adakah yang merasa terlalu lelah untuk melangkah?
adakah yang ragu pada pertolongan ALLAH?
jika kita membaca ayat diatas lalu mempertanyakan, “apakah benar semua orang yang menolong agama ALLAH akan ditolongNya?” maka kita perlu mengingat kembali kisah-kisah sarat mujizat yang telah membuktikan betapa luar biasa ALLAH membantu hambaNya yang berjuang untuk agamanya, sebagian diantaranya:
- Musa as, saat ALLAH membukakan jalan keluar ketika beliau bersama umat dikejar bala tentara fir’aun. disaat ada kekhawatiran akan keselamatan umatnya, disaat itulah ALLAH menurunkan bantuan luar biasa yang tidak pernah terjadi sebelum dan sesudahnya, ALLAH membelah lautan merah untuk jalan. dan akhirnya beliau as beserta umatnya selamat. Sedangkan fir’aun dan pasukannya yang terus mengejar akhirnya ditimpa air laut.
- Ibrahim as, disaat ALLAH menyelamatkan beliau dari siksaan api yang siap memanggang beliau.
- Muhammad saw, disaat para malaikat turun ke bumi dan menjadi bagian dari pasukan mujahid melawan kaum quraisy. Pasukan muslim yang hanya 314 orang berhasil menumbangkan kesombongan kaum kafir yang berjumlah seribu orang dengan semua tokoh kaum musyrikin.
- Yunus as, yang diselamatkan ALLAH dari perut ikan paus.
Dan begitu banyak kisah lain yang menjadi bukti nyata betapa ALLAH menurunkan bantuanNya pada hamba-hambaNya yang berjuang membela agamaNya. Keikhlasan dan totalitas perjuangan mereka telah menyentuh kehendak ALLAH untuk menurunkan bantuanNya. Sungguh, tiada keraguan atas apa yang dijanjikan ALLAH pada umat manusia.
pertanyaannya kemudian adalah:
masihkah kita ragu?
masihkah kita enggan?
sudahkah kita menunaikan kehormatan hidup kita sebagai pembela (agama) ALLAH?
Semoga kita senantiasa diistiqomahkan dalam jalan kebenaran. aamiin…
Siapapun kita yang menjalani aktivitas dakwah Ilallah,
Siapapun kita yang senantiasa menjalani rutinitas hidup untuk mencari keridloan ALLAH,
Siapapun kita yang senantiasa berjuang untuk pertemuannya dengan ALLAH,
katakan ” BISMILLAHI ALLAHUAKBAR ! “, lalu biarkan ALLAH membantu kita dengan kuasaNya.
Sedikit renungan, semoga bermanfaat.
Lidah pasti berat timbangannya, karena hanya sedikit orang yang mampu menahannya.
Kata-kata adalah jendela hati.
Segala sesuatu dalam kehidupan sifatnya sementara: jika berjalan dengan baik, nikmatilah. Karena hal itu tidak berlangsung lama. Jika tidak berjalan baik, jangan kawatir, karena hal itu juga tidak akan berlangsung selamanya.